Ini adalah Tugas Akhir Saya Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan
Konsentrasi Bangunan Air
Politeknik Negeri Pontianak
Semoga bermanfaat sebagai panduan. Hahahaha...
ABSTRAK
Air sangat
berperan penting bagi mahkluk hidup, baik dalam
pertanian dan kebutuhan rumah tangga. Pada daerah-daerah tertentu air yang
tersedia secara alami tidak memenuhi syarat untuk di konsumsi, misalnya air
gambut. Dari persyaratan standar mutu air minum atau air untuk kebutuhan rumah
tangga, ada beberapa kandungan zat yang tidak layak di konsumsi pada
batasan-batasan tertentu, di samping itu secara fisik air yang mempunyai warna
yang pekat berarti mengandung bahan-bahan yang berbahaya.
Upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas air gambut
agar memenuhi persyaratan secara fisik, kimia dan mikrobiologi, diantaranya
dapat dilakukan dengan suatu proses Sistem alami penjernihan air dengan
menggunakan metode penyaringan.
Penjernihan air dengan menggunakan metode
penyaringan dapat dilakukan dengan sangat mudah dan menggunakan
peralatan-peralatan yang relatife sederhana. Berdasarkan hasil pengujian yang
dilakukan dengan beberapa macam perbandingan antara penyaringan dengan air
gambut, tentunya di peroleh hasil yang berbeda-beda. Demikian juga hasil uji
laboratorium terhadap air hasil dari proses penjernihan tersebut. Dari hasil
ini maka dapat diketahui kualitas air gambut yang telah melalui proses
penjernihan dengan masing-masing perbandingan apakah cukup layak untuk di
jadikan air minum.
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar
Belakang
Air merupakan kebutuhan pokok bagi makhluk hidup.
Tanpa air berarti tanpa kehidupan. Untuk menjamin kehidupan masyarakat dalam
hal kesehatan lingkungan, di perlukan sistem penyediaan air bersih yang
memenuhi kualitas kesehatan.
Penyediaan air bersih di daerah Kota Pontianak
Kalimantan Barat di kelola oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Dengan
mengambil sumber dari air sungai, pada waktu musim hujan distribusi air dari PDAM
berjalan lancar, tetapi pada waktu musim kemarau, debit air dari PDAM berkurang
dikarenakan air sungai terinturasi air laut.
Di beberapa daerah di Pontianak masih terdapat
parit-parit besar yang pada musim kemarau debit atau aliran airnya masih besar
dan tidak terkena atau terintrusi air laut (misalnya di daerah Rasau Jaya),
tetapi air tersebut berwarna merah yang di karenakan jenis tanahnya gambut.
Air tersebut dapat di gunakan atau di konsumsi
sebagai air bersih atau air minum oleh manusia, tetapi di karenakan warnanya
yang merah maka masyarakat sekitar hanya menggunakan air tersebut untuk Mandi
Cuci Kaskus (MCK) saja. Oleh karena itu, penulis merasa tertarik untuk meneliti
warna air gambut secara persyaratan fisika dari kualitas air dapat terpenuhi.
1.2.
Permasalahan
Dari
waktu ke waktu, pertambahan penduduk semakin meningkat sehingga kebutuhan air
bersih juga akan meningkat. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan akan air
bersih berbagai upaya terus di lakukan, antara lain pengembangan penyediaan air
bersih oleh PDAM, membangun sistim Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang baru,
penyediaan prasarana penampungan air hujan, pengolahan air bersih secara
mandiri dengan membuat prasarana pengolahan air bersih yang sederhana atau
pengolahan air dengan menggunakan zat-zat kimia yang tidak membahayakan
kesehatan, sehingga dapat menghasilkan mutu air yang bersih.
1.3.
Pembatasan
Masalah
Penulisan Tugas Akhir ini akan membahas tentang
“Bagaimana Melakukan Penjernihan Air Dengan Menggunakan Metode Penyaringan”
1.4.
Maksud
dan Tujuan
1.4.1. Maksud
Penulisan Tugas Akhir ini di
maksudkan untuk memberikan dan menguraikan salah satu cara atau proses
penjernihan air dengan menggunakan metode penyaringan sebagai alternatife
pengganti bahan penjernih air berupa zat kimia yang banyak terdapat di pasaran.
1.4.2. Tujuan
Tujuan
dari penulisan Tugas Akhir ini adalah :
Ø Menjelaskan
mengenai manfaat metode penyaringan.
Ø Menjelaskan
mengenai tata cara pengolahan air bersih menggunakan metode penyaringan.
1.5.
Sistematika Pembahasan
Untuk
mempermudah dalam penulisan Tugas Akhir ini di atur dalam 5 (lima) bab, yaitu :
BAB
I PENDAHULUAN
Berisikan tentang latar
belakang, maksud dan tujuan, permasalahan, pembatasan masalah, dan sistematika
pembahasan.
BAB
II DASAR TEORI
Berisikan tentang teori-teori
yang berhubungan dengan teknik penjernihan air.
BAB
III PELAKSANAAN PENELITIAN
Berisikan tentang teknik
dan tata cara penjernihan air dengan metode penyaringan.
BAB
IV PEMBAHASAN
Berisikan tentang hasil
pengujian laboratorium dan data.
BAB
V PENUTUP
Berisikan tentang kesimpulan
dan saran.
LAMPIRAN
Berisikan data-data penunjang yang
berkaitan dengan pembahasan Tugas Akhir ini.
BAB
II
DASAR
TEORI
2.1. Saringan Air
Sederhana
Saringan Air Sederhana
atau Tradisional merupakan modifikasi dari saringan pasir arang dan saringan
pasir lambat. Pada saringan sederhana ini selain menggunakan pasir, kerikil,
batu dan arang juga ditambah satu buah lapisan ijuk yang berasal dari serabut
kelapa.
Saringan air sederhana
dapat di susun. Pada lapisan paling bawah adalah batu koral, lapisan
selanjutnya adalah ijuk, lalu arang pada lapisan ke tiga, di atas arang dapat
diletakkan kerikil sebagai lapisan ke empat dan pasir sebagai lapisan ke lima
kemudian letakan kembali kerikil sebagai lapisan paling atas. Ijuk bersifat
menyaring kotoran pada air yang berukuran besar, sedangkan arang bersifat
menyerap kotoran air yang ukurannya kecil dan bisa juga sebagai mengurangi atau
menghilangkan bau.
Untuk tempat saringan dapat
menggunakan tong, drum, ember, ataupun sambungan kaleng atau sambungan botol
plastik. Sedangkan ukuran lapisan saringan dapat di sesuaikan dengan masalah
yang akan di hadapi bila basalah yang di hadapi cukup berat dapat di coba
dengan menambahkan satu buah lapisan batu zeolit.
Hal yang perlu diketahui bahwa
setelah saringan dibuat, air yang akan di hasilkan awalnya tidak terlalu
jernih, tetapi lama-kelamaan air yang akan di keluarkan akan menjadi jernih.
Selain itu, aturlah debit air yang masuk pada tangki penyaringan (keluaran dari
tangki pengendapan) agar tidak lebih besar dari debit air yang akan di
keluarkan dari saringan (air bersih).
2.2. Air Gambut
Air gambut merupakan air permukaan
dari tanah gambut dengan cirri-ciri mencolok warnanya, karena warnanya merah
kecoklatan, mengandung zat organik tinggi, rasanya asam, pH 2-5, dan tingkat
kesadahaanya rendah.
Kebutuhan air penduduk di daerah
gambut tergantung pada air gambut yang memiliki kualitas kurang baik. Karena
cukup banyak penduduk yang tergantung pada air gambut maka pemerintah sangat
memperhatikan pengolahan air gambut. Untuk itulah Puslitbang Pemukiman DPU
mengadakan penelitian pengolahan air gambut sejak tahun 1982. Hal ini dilakukan
dalam rangka penyediaan air bersih untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat.
2.3. Penyediaan Air
Bersih
Air merupakan suatu sarana utama
untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, karena air merupakan salah
satu media dari berbagai macam penularan penyakit melalui air, terutama
penyakit kulit dan sakit perut. Dan untuk menanggulanginya dengan cara
menyediakan air dalam jumlah yang cukup dan memenuhi kualitas kesehatan.
2.4. Sumber Air
Sumber air merupakan salah satu
komponen utama yang mutlak ada pada sistem penyediaan air bersih, karena tanpa sumber
air ini maka diharapkan kita mempunyai gambaran mengenai sumber air tersebut,
misalnya air laut, air hujan, air permukaan, atau air tanah.
2.5. Persyaratan Air
Bersih
Kualitas air yang digunakan sebagai
air bersih sebaiknya memenuhi persyaratan secara fisik, kimia, dan
mikrobiologi.
Ø Syarat
Fisik :
·
Air tidak boleh
berwarna.
·
Air tidak boleh berasa.
·
Air tidak boleh berbau.
·
Air yang baik harus
memiliki temperatur sama dengan temperatur udara (20-26˚C).
·
Air harus jernih.
·
Air tidak mengandung
zat padatan.
Ø Syarat
kimia :
·
Ph netral.
·
Tidak mengandung bahan
kimia.
·
Tidak mengandung garam
atau ion-ion logam.
·
Kesadahan rendah.
·
Tidak mengandung bahan
organik.
Ø Syarat
mikrobiologis :
·
Tidak mengandung
bakteri patogen, misalnya bakteri golongan coli, salmonellatyphi, vibro
chlotera, dan lain-lain. Kuman-kuman ini mudah tersebar melalui air (transmitted by water)
·
Tidak mengandung
bakteri nonpatogen, seperti actinomycetes, phytoplankton coliform, cladocera,
dan lain-lain.
2.6. Penilaian Kualitas
Air
Sifat fisik air dapat dianalisis
secara visul dengan pancaindra. Misalnya keruh atau berwana dapat dilihat
langsung, bau dan rasa dapat di rasa dengan hidung dan lidah. Penilaian
tersebut tentu saja bersifat kualitatif. Misalnya, bila tercium bau yang sudah
tercium dapat di tebak pula. Cara ini dapat digunakan untuk menganalisis air
secara sederhana karena sifat-sifat air saling berkaitan.
Derajat bau air dapat di tentukan
dengan cara pengencera. Misalnya air bau kemudian di encerkan dua kali menjadi
tidak bau, berarti derajat bau air itu rendah. Begitu juga sebaliknya, jika di
encerkan berulang kali tetapi masih tetap bau berarti derajat baunya tinggi.
Analisis kualitas air dapat
dilakukan di laboratorium maupun secara sederhana. Pemeriksaan di laboratorium
akan menghasilkan data-data yang lengkap dan bersifat kuantitatif dan
kualitatif, sedangkan pemeriksaan sederhana hanya bersifat kualitatif.
Pemeriksaan sederhana mempunyai keuntungan karena murah dan mudah sehingga
semua orang dapat melakukannya tanpa memerlukan bahan-bahan yang mahal.
Di laboratorium kualitas air
diperiksa sifat fisik dan kimia. Secara fisik diperiksa derajat kekeruhan, daya
hantar listrik, derajat warna dan derajat bau. Indikator kimia meliputi
pengukuran Ph, dan kandungan bahan-bahan yang terlarut.
2.7. Pengertian dan
Prinsip Pengolahan Air
Pengolahan air minum merupakan upaya
untuk mendapatkan air yang bersih dan sehat sesuai dengan standar mutu air
untuk kesehatan. Standar baku mutu air minum ditetapkan berdasarkan Peraturan
Menteri Kesehatan RI Nomor 01 tahun 1975 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan
Kualitas Air Minum.
Proses pengolahan air minum
merupakan proses perubahan sifat fisik, kimia, dan biologi air baku agar
memenuhi syarat untuk digunakan sebagai air minum. Tujuan dan kegiatan
pengolahan air minum adalah:
a. Menurunkan
kekeruhan.
b. Mengurangi
bau, rasa, dan warna.
c. Menurunkan
dan mematikan mikro organism.
d. Mengurangi
kadar bahan-bahan yang terlarut dalam air.
e. Memperbaiki
derajat keasaman (pH).
Pengolahan air dapat dilakukan
secara individu maupun kolektif. Dengan berkembangnya penduduk dan teknologi di
perkotaan, pengolahan air khusus dilakukan oleh Perusahaan Air Minum (PAM).
Selain mengolah air, PAM juga mendistribusikannya ke rumah-rumah penduduk.
Namun sebaliknya, di desa belum ada perusahaan yang khusus mengolah dan
mendistribusikan air bersih. Oleh karena itu, jika terdapat air yang
kualitasnya kurang baik perlu dilakukan pengolahan dengan teknik sederhana dan
tepat guna sesuai dengan bahan yang ada di lokasi.
Proses kimia pada pengolahan air
minum diantaranya meliputi koagulasi, aerasi, reduksi, dan oksidasi. Semua
proses kimia tersebut dapat dilakukan secara sederhana ataupun dengan
menggunakan teknik modern.
Pengolahan air secara biologi untuk
mematikan pathogen dapat berlangsung bersama-sama dengan reaksi kimia dan
fisika atau secara khusus dengan pemberian desinfektan. Cara yang paling
sederhana untuk mematikan mikro organisme yaitu dengan pemanasan sampai 100˚C.
2.8. Pengolahan Air
Secara Fisika
Pengolahan secara fisika yang mudah
dilakukan adalah penyaringan (filtrasi), pengendapan (sedimentasi), dan
absorpsi.
2.8.1. Penyaringan
(filtrasi)
Penyaringan merupakan proses
pemisahan antara padatan/koloid dengan cairan. Proses penyaringan bisa
merupakan proses awal (primary treatment)
atau penyaringan dari proses sebelumnya, misalnya penyaringan dari hasil
koagulasi. Bahan padatan berupa logam, tulang, atau daun dapat disaring secara
kasar atau sedang melalui proses awal (primary treatment).
Apabila air olahan yang akan
disaring berupa cairan yang mengandung butiran halus atau bahan-bahan yang
larut maka sebelum di proses koagulasi atau netralisasi yang menghasilkan
endapan. Dengan demikian, bahan-bahan tersebut dapat dipisahkan dari cairan
melalui filtrasi.
2.8.2. Sedimentasi
(pengendapan)
Sedimentasi merupakan proses
pengendapan bahan padat dari air olahan. Proses sedimentasi bisa terjadi bila
air limbah mempunyai berat jenis lebih besar dari pada air sehingga mudah
tenggelam.
Proses pengendapan ada yang bisa
terjadi langsung, tetapi ada pula yang memerlukan proses pendahuluan seperti
koagulasi, atau reaksi kimia. Prinsip sedimentasi adalah pemisahan bagian padat
dengan memanfaatkan gaya gravitasi sehingga bagian yang padat berada di dasar
kolam pengendapan sedangkan air murni di atas.
2.8.3. Absorpsi dan
Adsorpsi
Absorpsi merupakan proses penyerapan
bahan-bahan tertentu. Dengan penyerapan tersebut air menjadi jernih karena
zat-zat di dalamnya diikat oleh absorben.
Absorpsi umumnya menggunakan bahan
absorben dari karbon aktif. Pemakaiannya dengan cara membubuhkan karbon aktif
bubuk kedalam air olahan atau dengan cara menyalurkan air melalui saringan yang
medianya terbuat dari aktif kasar.
Adsorpsi merupakan
penangkapan/pengikat ion-ion bebas yang ada di dalam air oleh adsorben. Contoh
zat yang digunakan untuk proses adsorpsi adalah zeolit dan resin yang merupakan
polimerisasi dari polihidrik felon dengan formaldehid. Sebagai contoh pengikat
ion
dan
.
2.8.4. Elektrodialisis
Elektrodialisis merupakan proses
pemisahan ion-ion yang larut di dalam air limbah dengan memberikan dua kutub
listrik yang berlawanan dari arus searah (direct
current, DC). Ion positif akan bergerak ke arah kutub negatif (katoda),
sedangkan ion negatif akan bergerak ke kutub positif (anoda).
Pada kutub positif (anoda), ion
negatif akan melepaskan elektronnya sehinggan menjadi molekul yang berbentuk
gas ataupun pada yang tidak larut dalam air. Hal ini memungkinkan terjadinya
pengendapan.
2.9. Pengolahan Air
Secara Kimia
2.9.1. Koagulasi
Koagulasi merupakan proses
penggumpalan melalui reaksi kimia. Reaksi koagulasi dapat berjalan dengan
membubuhkan zat pereaksi (koagulasi) sesuai dengan zat yang terlarut. Koagulan
yang banyak digunakan adalah kapur,
tawas, dan kaporit.
Banyaknya koagulan tergantung pada
jenis dan konsentrasi ion-ion yang larut dalam air olahan serta konsentrasi
yang diharapkan sesuai dengan standar baku. Untuk mempercepat proses koagulasi
dalam air limbah maka dilakukan pengadukan dengan mixer statis maupun rapid
mixer.
2.9.2. Aerasi
Aerasi merupakan suatu sistem
oksigenasi melalui penangkapan
dari udara pada air olahan yang akan di
proses. Pemasukan oksigen ini bertujuan agar
di udara dapat bereaksi dengan kation yang ada
di dalam air olahan. Reaksi kation dan oksigen menghasilkan oksidasi logam yang
sukar larut dalam air sehingga dapat mengendap.
Proses aerasi terutama untuk
menurunkan kadar besi (Fe) dan magnesium (Mg). kation
atau
bila disemburkan ke udara akan membentuk
oksidasi
dan MgO. Proses aerasi harus diikuti oleh
proses filtrasi atau pengendapan.
2.10. Pengolahan Air
Secara Mikrobiologi
Upaya memperbaiki mikrobiologi air
minum yang paling konvensional adalah dengn cara mematikan mikroorganisme.
Proses ini bisa dilakukan sekaligus dengan proses koagulasi ataupun melalui
praktek sederhana dengan cara mendidihkan air sehingga mencapai suhu 100
C.
BAB
III
PELAKSANAAN
PENELITIAN
3.1.
Lokasi Penelitian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar